BAB
I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah
penghasil tekstil terbaik kualitasnya namun pada periode ini Indonsia mengalami
keturunan dalam masalah tekstil yang dihasilkannya berdasarkan staf Asosiasi
Pertekstilan Indonesia (API), telah mengatakan bahwa pangsa pasar produk
tekstil lokal di pasar domestik masih rendah, sekitar 50 persen. Padahal,
kualitas produk lokal masih jauh lebih baik, rendahnya pangsa pasar domestik
disebabkan oleh penawaran harga produk impor lebih murah dibanding produk
lokal. Padahal, pada awal tahun ini, pasar tekstil dalam negeri diperkirakan
tumbuh 5 persen dari pasar tahun lalu, US$ 22,7 miliar atau sekitar Rp 221
triliun. "Masyarakat masih sensitif
masalah harga. Harga lebih murah sedikit, mereka beli tanpa melihat kualitas,
sebenarnya produk yang diimpor bukan produk berkualitas tinggi di negeri
asalnya. Misalnya, impor produk Cina yang bukan merupakan kualitas terbaik yang
diimpor. "Mungkin produk-produk grade C. Tapi, justru itulah yang diminati
oleh masyarakat." Staf Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berpendapat,
untuk meningkatkan pangsa pasar produk lokal, daya beli masyarakat harus
ditingkatan. Jika daya beli meningkat, masyarakat akan membeli produk yang
lebih baik. Selanjutnya, pemerintah harus meningkatkan rasa cinta produk dalam
negeri. (http://www.tempo.co)
Maraknya
barang impor di dalam negeri tidak hanya untuk jenis buah-buahan dan
sayur-sayuran, tetapi juga produk konsumsi berupa pakaian jadi atau garmen. Dampaknya,
banyak produsen pakaian jadi dalam negeri yang gulung tikar. Ketua Komite
Pedagang Grosir Tekstil Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menyatakan
banyak produsen pakaian jadi yang terpaksa gulung tikar karena banyaknya
pakaian jadi impor yang masuk ke dalam negeri, kalah bersaingnya produk pakaian
jadi lokal dengan produk impor terletak pada desain dan aksesoris. Para
produsen lokal dinilai kurang kreatif karena keterbatasan bahan baku yang
dimilikinya, kondisi barang impor saat ini lebih parah jika dibandingkan dengan
tahun lalu. Kini, para produsen pakaian jadi yang gulung tikar itu hanya bisa
menjadi pedagang pakaian. (http://m.tubasmedia.com)
Keadaan
garmen di Jawa Barat Pada triwulan I-2013 kinerja ekspor (antar negara maupun
antar daerah) tumbuh sebesar 8,3% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan impor yang
juga mengalami peningkatan sebesar 13,0% (yoy). Ekspor Jawa Barat pada periode
laporan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 4,9%. Sementara,
impor juga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari triwulan IV-2012 yaitu
7,4% (yoy). Peningkatan kinerja ekspor Jawa Barat diperkirakan terutama
didorong oleh ekspor antar daerah sebagaimana yang diindikasikan dengan
tingginya ITK di daerah lain. Jawa Barat yang merupakan pemasok bahan pangan
dan produk manufaktur diuntungkan dengan kedekatan lokasi dengan Provinsi
Banten dan DKI Jakarta yang pada periode laporan memiliki ITK cukup tinggi,
yakni masing-masing sebesar 108,34 dan 108,32.
Berdasarkan negara
tujuannya, ekspor Jawa Barat ditujukan paling banyak ke negara-negara di
kawasan ASEAN (21%), Amerika Serikat, Jepang, dan Cina (Grafik 1.20). Kondisi
perekonomian global yang yang mulai membaik, mendorong peningkatan ekspor ke
Amerika Serikat dan Eropa walaupun saat ini masih berada pada tren yang
menurun. Menurut komoditasnya, produk utama yang diekspor pada triwulan I-2013
adalah alat elektronik sebesar 23% sementara tekstil dan produk tekstil sebesar
22%. Produk mesin, bahan kimia, dan karet/plastik juga merupakan komoditas
ekspor yang memberikan kontribusi cukup besar mencapai 32% (lihat Grafik 1.21).
GRAFIK 1.1
NILAI EKSPOR JAWA BARAT
Sementara itu, impor (antara
daerah dan negara) Jawa Barat pada triwulan I-2013 meningkat dari 7,4% menjadi
13,0%. Impor antar daerah diindikasikan naik drastis mengingat sejak
diberlakukannya kebijakan pemerintah atas pengaturan impor hortikultura, Jawa
Barat menjadi sangat tergantung dengan pasokan hortikultura impor dari Jawa
Timur. Hal ini kemudian menyebabkan pengalihan sebagian besar impor dari
Tanjung Priok ke Tanjung Perak. Sementara, dari sisi eksternal, impor masih
sedikit terkontraksi yakni -1,1% atau mencapai sebesar USD 2,9 miliar (Grafik
1.22). Peningkatan pertumbuhan impor terutama berasal dari perkembangan impor
dari luar negeri untuk bahan baku industri manufaktur.
GRAFIK
1.2
NILAI IMPOR JAWA BARAT
Di Jawa barat khususnya pada saat
ini banyak sekali yang beroreprasi salah satunya di daerah cimahi terdapat
beberapa perusahaan TPT seperti PT. X, PT. Adetex, PT. Alena
Textile Industries, PT. Inti Gunawantex dan masih banyak perusahaanyang
bergerak di industri garmen lainnya. PT. X adalah peruasahaan yang
bergerak di industri garmen dimana lokasi PT. Mulya Lestari yang terletak di
kawasan Cimahi yang mempunyai perkembangan dan berkemampuan menyediakan produk
tekstil rajut untuk memenuhi tuntutan pasar. PT X memproduksi produk
rajut yang berkualitas tinggi dengan inovasi-inovasi baru yang bersaing dalam
dunia pasar lokal dan internasional, dan menjadikan diri salah satu industri
tekstil rajut terkemuka dan terpercaya. Produktivitas sangat di perlukan di PT. X karena banyaknya tuntutan hasil
kain yang berkualitas dan terpercaya baik dan pesanan dalam
jumlah yang telah ditentukan untuk memenuhi semua pesanan.
TABEL 1.1
PRODUKSI PT.X 2012
Bulan
|
Jumlah produksi
|
Target
|
Capaian
|
January
|
896.456
|
990.000
|
90,55%
|
February
|
913.345
|
990.000
|
92,25%
|
Maret
|
924.302
|
1.000.000
|
92,43%
|
April
|
901.980
|
1.000.000
|
90,19%
|
Mei
|
899.098
|
1.000.000
|
89,90%
|
Juni
|
900.897
|
1.000.000
|
90,08%
|
Juli
|
919.827
|
1.000.000
|
91,98%
|
Agustus
|
899.267
|
1.000.000
|
89,92%
|
September
|
898.257
|
1.000.000
|
89,82%
|
Oktober
|
897.098
|
1.000.000
|
89,70%
|
Nopember
|
908.360
|
1.000.000
|
90,836%
|
Desember
|
879.098
|
1.000.000
|
87,90%
|
Sumber: produksi
PT Mulia Lestari
Dilihat dati tabel di atas bahwa
produksi pada PT X memiliki
penurunan pada tingkat pencapain yang di produksi yang mengakibatkan perusahaan
memiliki permasalahan yang berpengaruh besar terhadap produksi di PT. X yang diakibatkan oleh beberapa factor yang terjadi. Produktivitas dapat
diartikan sebagai suatu sikap mental yang mempunyai semangat untuk bekerja keras dan
keinginan untuk meningkatkan prestasi. Sikap
mental dapat berupa kerukunan bekerja, disiplin dalam bekerja maupun
keinginan untuk menambah pengetahuan.
Mengingat pentingnya disiplin dalam bekerja sebagai salah satu cara untuk merealisasikan
tujuan perusahaan, yang sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
Menurut hasil wawancara dengan
bagian HRD PT. X ternyata
terdapat beberapa masalah yang terjadi salah satunya, terdapat beberapa
karyawan yang tidak mengikuti peraturan, seperti banyaknya karyawan yang absen,
sakit tanpa keterangan dan lembur yang
berkaitan dengan disiplin kerja pada karyawan yang menyebabkan terganggunya
produktivitas PT. Novatex
TABEL
1.2
REKAPITULASI
ABSENSI KARYAWAN
PT.X
TAHUN
2010 - 2012
Tahun
|
Sakit
|
Izin
|
Alpha
|
Total
|
2010
|
447
|
746
|
86
|
1279
|
2011
|
315
|
678
|
119
|
1112
|
2012
|
291
|
887
|
315
|
1493
|
Sumber: produksi X
Berdasarkan Tabel 1.2 tingkat
kecendrungan ketidakhadiran bervariasi selama tiga periode mulai dari tahun
2010 - 2012, tingkat kehadiran yang terendah
adalah tahun 2011 sementara yang tertinggi tahun 2012, yang sehingga
berdampak pada Jumlah
Pekerjaan, Pekerjaan yang tepat waktu serta tidak tepat waktu pada hasil
prosuksi di PT. X tahun 2010 – 2012.
TABEL
1.3
HASIL KARYAWAN TEPAT DAN TIDAK TEPAT WAKTU
PT.X
TAHUN
2010 - 2012
Tahun
|
Jumlah
pekerjaan
|
Pekerjaan
selesai tepatwaktu
|
Pekerjaan
tidak selesai tepat waktu
|
Presentase
pekerjaan tidak tepatwaktu (%)
|
2010
|
3576
|
2904
|
672
|
18,79%
|
2011
|
4668
|
4128
|
540
|
11,56%
|
2012
|
4632
|
4044
|
708
|
15,28%
|
Sumber: produksi PT X
Berdasarkan tabel diatas hasil
produksi dan ketepatan waktu selama tahun 2010 - 2012, hasil absensi dan
presentase pekerjaan tidak tepat waktu dalam pekerjaan yang tertinggi terdapat pada tahun 2012 dan
2010 dan yang terendah terdapat pada pada
tahun 2011. Apabila kehadiran karyawan meningkat maka produksi pun akan meningkat terlihat tahun 2012 tingkat ketidakhadiran
sangat tinggi maka hasil produksi pun
menurun. Hal ini mempengaruhi produktivitas PT. X dengan sering tidak
disiplinnya pegawai maka perusahaan perlu solusi yang baru dan perlu ada waktu
penyesuaian sehingga menyebabkan produksi nya lambat. Target perusahaan pun
terkadang menjadi menghambat terhadap
hasil produksi karena di akibatkan dengan karyawan yang sering alpha dan
pekerjaan tidak tepat pada waktunya. Berdasarkan penuturan HRD di PT. X kediplinan yang sering dilanggar disebabkan oleh beberapa faktor,
dengan alasan diantaranya keterbatasan
fasilitas tanpa memikirkan solusinya, bermain games pada jam kerja dan
mengerjakan pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan tugasnya serta yang
paling dominan dalam mempengaruhi diplin kerja adalah pengawasan melekat.
Disiplin kerja menjadi faktor yang
dapat hasil yang sangat bermanfaat bagi kepentingan individu khususnya pihak
perusahaan. Karyawan akan merasa disiplin jika mereka dapat mentaati semua
peraturan yang telah dibuat oleh perusahaan serta fasilitas yang cukup yang telah
diberikan perusahaan kepada mereka. Perusahaan akan merasa pekerjaan karyawan
dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.
Berdasarkan uraian diatas
maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Disiplin
Terhadap Produktivitas Karyawan”