Senin, 17 Maret 2014

Disiplin Terhadap Produktivitas Karyawan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Penelitian
Indonesia adalah penghasil tekstil terbaik kualitasnya namun pada periode ini Indonsia mengalami keturunan dalam masalah tekstil yang dihasilkannya berdasarkan staf Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), telah mengatakan bahwa pangsa pasar produk tekstil lokal di pasar domestik masih rendah, sekitar 50 persen. Padahal, kualitas produk lokal masih jauh lebih baik, rendahnya pangsa pasar domestik disebabkan oleh penawaran harga produk impor lebih murah dibanding produk lokal. Padahal, pada awal tahun ini, pasar tekstil dalam negeri diperkirakan tumbuh 5 persen dari pasar tahun lalu, US$ 22,7 miliar atau sekitar Rp 221 triliun.  "Masyarakat masih sensitif masalah harga. Harga lebih murah sedikit, mereka beli tanpa melihat kualitas, sebenarnya produk yang diimpor bukan produk berkualitas tinggi di negeri asalnya. Misalnya, impor produk Cina yang bukan merupakan kualitas terbaik yang diimpor. "Mungkin produk-produk grade C. Tapi, justru itulah yang diminati oleh masyarakat." Staf Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) berpendapat, untuk meningkatkan pangsa pasar produk lokal, daya beli masyarakat harus ditingkatan. Jika daya beli meningkat, masyarakat akan membeli produk yang lebih baik. Selanjutnya, pemerintah harus meningkatkan rasa cinta produk dalam negeri. (http://www.tempo.co)
Maraknya barang impor di dalam negeri tidak hanya untuk jenis buah-buahan dan sayur-sayuran, tetapi juga produk konsumsi berupa pakaian jadi atau garmen. Dampaknya, banyak produsen pakaian jadi dalam negeri yang gulung tikar. Ketua Komite Pedagang Grosir Tekstil Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menyatakan banyak produsen pakaian jadi yang terpaksa gulung tikar karena banyaknya pakaian jadi impor yang masuk ke dalam negeri, kalah bersaingnya produk pakaian jadi lokal dengan produk impor terletak pada desain dan aksesoris. Para produsen lokal dinilai kurang kreatif karena keterbatasan bahan baku yang dimilikinya, kondisi barang impor saat ini lebih parah jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kini, para produsen pakaian jadi yang gulung tikar itu hanya bisa menjadi pedagang pakaian. (http://m.tubasmedia.com)
Keadaan garmen di Jawa Barat Pada triwulan I-2013 kinerja ekspor (antar negara maupun antar daerah) tumbuh sebesar 8,3% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan impor yang juga mengalami peningkatan sebesar 13,0% (yoy). Ekspor Jawa Barat pada periode laporan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh 4,9%. Sementara, impor juga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari triwulan IV-2012 yaitu 7,4% (yoy). Peningkatan kinerja ekspor Jawa Barat diperkirakan terutama didorong oleh ekspor antar daerah sebagaimana yang diindikasikan dengan tingginya ITK di daerah lain. Jawa Barat yang merupakan pemasok bahan pangan dan produk manufaktur diuntungkan dengan kedekatan lokasi dengan Provinsi Banten dan DKI Jakarta yang pada periode laporan memiliki ITK cukup tinggi, yakni masing-masing sebesar 108,34 dan 108,32.
Berdasarkan negara tujuannya, ekspor Jawa Barat ditujukan paling banyak ke negara-negara di kawasan ASEAN (21%), Amerika Serikat, Jepang, dan Cina (Grafik 1.20). Kondisi perekonomian global yang yang mulai membaik, mendorong peningkatan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa walaupun saat ini masih berada pada tren yang menurun. Menurut komoditasnya, produk utama yang diekspor pada triwulan I-2013 adalah alat elektronik sebesar 23% sementara tekstil dan produk tekstil sebesar 22%. Produk mesin, bahan kimia, dan karet/plastik juga merupakan komoditas ekspor yang memberikan kontribusi cukup besar mencapai 32% (lihat Grafik 1.21).
  GRAFIK 1.1
NILAI EKSPOR JAWA BARAT
Sementara itu, impor (antara daerah dan negara) Jawa Barat pada triwulan I-2013 meningkat dari 7,4% menjadi 13,0%. Impor antar daerah diindikasikan naik drastis mengingat sejak diberlakukannya kebijakan pemerintah atas pengaturan impor hortikultura, Jawa Barat menjadi sangat tergantung dengan pasokan hortikultura impor dari Jawa Timur. Hal ini kemudian menyebabkan pengalihan sebagian besar impor dari Tanjung Priok ke Tanjung Perak. Sementara, dari sisi eksternal, impor masih sedikit terkontraksi yakni -1,1% atau mencapai sebesar USD 2,9 miliar (Grafik 1.22). Peningkatan pertumbuhan impor terutama berasal dari perkembangan impor dari luar negeri untuk bahan baku industri manufaktur.

                                                         GRAFIK 1.2
NILAI IMPOR JAWA BARAT
            Di Jawa barat khususnya pada saat ini banyak sekali yang beroreprasi salah satunya di daerah cimahi terdapat beberapa perusahaan TPT seperti PT. X, PT. Adetex, PT. Alena Textile Industries, PT. Inti Gunawantex dan masih banyak perusahaanyang bergerak di industri garmen lainnya. PT. X adalah peruasahaan yang bergerak di industri garmen dimana lokasi PT. Mulya Lestari yang terletak di kawasan Cimahi yang mempunyai perkembangan dan berkemampuan menyediakan produk tekstil rajut untuk memenuhi tuntutan pasar. PT X memproduksi produk rajut yang berkualitas tinggi dengan inovasi-inovasi baru yang bersaing dalam dunia pasar lokal dan internasional, dan menjadikan diri salah satu industri tekstil rajut terkemuka dan terpercaya. Produktivitas sangat di perlukan di PT. X  karena banyaknya tuntutan hasil kain yang berkualitas dan terpercaya baik dan pesanan dalam jumlah yang telah ditentukan untuk memenuhi semua pesanan.
TABEL 1.1
PRODUKSI PT.X 2012
Bulan
Jumlah produksi
Target
Capaian
January
896.456
990.000
90,55%
February
913.345
990.000
92,25%
Maret
924.302
1.000.000
92,43%
April
901.980
1.000.000
90,19%
Mei
899.098
1.000.000
89,90%
Juni
900.897
1.000.000
90,08%
Juli
919.827
1.000.000
91,98%
Agustus
899.267
1.000.000
89,92%
September
898.257
1.000.000
89,82%
Oktober
897.098
1.000.000
89,70%
Nopember
908.360
1.000.000
90,836%
Desember
879.098
1.000.000
87,90%
               Sumber: produksi PT Mulia Lestari
            Dilihat dati tabel di atas bahwa produksi pada  PT X memiliki penurunan pada tingkat pencapain yang di produksi yang mengakibatkan perusahaan memiliki permasalahan yang berpengaruh besar terhadap produksi di PT. X yang diakibatkan oleh beberapa factor yang terjadi. Produktivitas dapat diartikan sebagai suatu sikap mental yang mempunyai      semangat untuk bekerja keras dan keinginan untuk meningkatkan prestasi. Sikap  mental dapat berupa kerukunan bekerja, disiplin dalam bekerja maupun keinginan    untuk menambah pengetahuan. Mengingat pentingnya disiplin dalam bekerja  sebagai salah satu cara untuk merealisasikan tujuan perusahaan, yang sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
            Menurut hasil wawancara dengan bagian HRD PT. X ternyata  terdapat beberapa masalah yang terjadi salah satunya, terdapat beberapa karyawan yang tidak mengikuti peraturan, seperti banyaknya karyawan yang absen, sakit tanpa keterangan dan lembur  yang berkaitan dengan disiplin kerja pada karyawan yang menyebabkan terganggunya produktivitas PT. Novatex

TABEL 1.2
REKAPITULASI ABSENSI KARYAWAN
PT.X
TAHUN 2010 - 2012
Tahun
Sakit
Izin
Alpha
Total
2010
447
746
86
1279
2011
315
678
119
1112
2012
291
887
315
1493
   Sumber: produksi X
            Berdasarkan Tabel 1.2 tingkat kecendrungan ketidakhadiran bervariasi selama tiga periode mulai dari tahun 2010 - 2012, tingkat kehadiran yang terendah  adalah tahun 2011 sementara yang tertinggi tahun 2012, yang sehingga berdampak pada Jumlah Pekerjaan, Pekerjaan yang tepat waktu serta tidak tepat waktu pada hasil prosuksi di PT. X tahun 2010 – 2012.
TABEL 1.3
HASIL KARYAWAN TEPAT DAN TIDAK TEPAT WAKTU
PT.X
TAHUN 2010 - 2012
Tahun
Jumlah pekerjaan
Pekerjaan selesai tepatwaktu
Pekerjaan tidak selesai tepat waktu
Presentase pekerjaan tidak tepatwaktu (%)
2010
3576
2904
672
18,79%
2011
4668
4128
540
11,56%
2012
4632
4044
708
15,28%
   Sumber: produksi PT X
            Berdasarkan tabel diatas hasil produksi dan ketepatan waktu selama tahun 2010 - 2012, hasil absensi dan presentase pekerjaan tidak tepat waktu dalam pekerjaan  yang tertinggi terdapat pada tahun 2012 dan 2010  dan yang terendah terdapat pada pada tahun 2011. Apabila kehadiran karyawan meningkat maka produksi pun akan  meningkat terlihat tahun 2012 tingkat ketidakhadiran sangat tinggi maka hasil  produksi pun menurun. Hal ini mempengaruhi produktivitas PT. X dengan sering tidak disiplinnya pegawai maka perusahaan perlu solusi yang baru dan perlu ada waktu penyesuaian sehingga menyebabkan produksi nya lambat. Target perusahaan pun terkadang menjadi menghambat  terhadap hasil produksi karena di akibatkan dengan karyawan yang sering alpha dan pekerjaan tidak tepat pada waktunya. Berdasarkan penuturan HRD di PT. X kediplinan yang sering dilanggar disebabkan oleh beberapa faktor, dengan alasan diantaranya  keterbatasan fasilitas tanpa memikirkan solusinya, bermain games pada jam kerja dan mengerjakan pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan tugasnya serta yang paling dominan dalam mempengaruhi diplin kerja adalah pengawasan melekat.
            Disiplin kerja menjadi faktor yang dapat hasil yang sangat bermanfaat bagi kepentingan individu khususnya pihak perusahaan. Karyawan akan merasa disiplin jika mereka dapat mentaati semua peraturan yang telah dibuat oleh perusahaan serta fasilitas yang cukup yang telah diberikan perusahaan kepada mereka. Perusahaan akan merasa pekerjaan karyawan dapat terlaksana dengan baik sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.

            Berdasarkan uraian diatas maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Disiplin Terhadap Produktivitas Karyawan